Survei Sharing Vision 2025 menemukan 99,8% pengguna internet Indonesia sudah tahu apa itu AI, tapi hanya sekitar separuhnya yang benar-benar memakainya dalam aktivitas sehari-hari. Dua angka itu, kalau ditaruh berdampingan, menunjukkan jarak antara tahu dan paham.
Dikenal luas, tapi skor literasinya rendah
APJII mencatat skor literasi AI masyarakat Indonesia baru 49,96 pada 2025, masuk kategori kurang baik. Pada survei APJII 2026, alasan terbesar orang belum memakai AI adalah sederhana: tidak tahu teknologinya, 46,6%, naik dari 35,5% setahun sebelumnya. Jumlah pengguna internet Indonesia sendiri sudah mencapai sekitar 235,26 juta orang, atau 81,72% populasi, menurut Sinyal Magazine. Jadi ini bukan soal akses, tapi soal pemahaman.
Cara kerja yang cukup dipahami orang biasa
AI generatif bekerja dengan teknik probabilistik: ia menghitung kata atau potongan kata yang paling mungkin muncul berikutnya, berdasarkan pola dari teks dalam jumlah sangat besar. Mirip dengan saran kata berikutnya yang muncul di atas keyboard ponsel, hanya saja skalanya jauh lebih besar. Hasilnya sering terdengar fasih, tapi kefasihan tidak sama dengan kebenaran.
Dari situ muncul pembagian sederhana. AI biasanya membantu untuk merangkum teks yang kamu berikan, menyusun draf awal tulisan, menjelaskan konsep dengan bahasa sederhana, dan memberi ide atau sudut pandang baru. Tapi angka, tanggal, dan nama spesifik, kutipan dan referensi, saran kesehatan atau hukum atau keuangan, serta hal yang baru terjadi, semuanya perlu dicek dulu sebelum dipercaya.
Pola pemakaian yang bergeser
Antara 2025 dan 2026, pemakaian AI untuk edukasi dan riset justru turun dari 43,9% ke 30,2%, menurut Sinyal Magazine. Sementara untuk hiburan naik dari 29,5% ke 36,5%, dan untuk pekerjaan naik dari 12,3% ke 26,9%. AI makin masuk ke kerja dan hiburan, padahal di dua ranah itulah banyak keputusan dan konten dibuat dengan cepat, sering kali tanpa sempat dicek ulang.
AI itu seperti teman yang sangat banyak membaca dan pandai bicara, tapi tidak pernah mau bilang "aku tidak yakin" dengan nada ragu. Kamu tetap perlu tahu kapan harus mengecek omongannya sendiri.