Di banyak warung, ada satu buku lusuh tersimpan di bawah meja kasir. Isinya siapa yang kasbon, berapa jumlahnya, dan kapan janji bayarnya. Kalau dibaca dengan benar, buku itu bercerita lebih banyak tentang kampungnya daripada survei resmi mana pun.
Empat hal yang sebenarnya sudah dikelola
Tanpa aplikasi apa pun, pemilik warung sudah menjalankan empat fungsi sekaligus: kas harian, yaitu uang masuk dan keluar; stok barang, yaitu apa yang laku dan apa yang mulai menipis; utang pelanggan, yaitu kredit informal yang sudah jadi bagian dari hubungan sosial; dan utang ke pemasok, yaitu barang yang diambil dulu lalu dibayar kemudian.
Warung menjalankan kasir, gudang, dan bank mini pada saat yang bersamaan, hanya saja semuanya ada di kepala dan di satu buku catatan.
Apa yang sudah terjadi di lapangan
Aplikasi pencatat seperti BukuWarung menyediakan fitur catat utang, mode kasir, kelola stok, dan laporan usaha. Pada 2021, aplikasi ini sudah menggaet 3,5 juta pedagang di 750 kota. Pendirinya mengklaim pedagang bisa menghemat 2 sampai 4 jam per hari dan memulihkan kasbon tiga kali lebih cepat, meski ini perlu dibaca sebagai klaim vendor, bukan angka independen.
Studi pendampingan di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih berantakan. Sebuah kedai belum melakukan pencatatan keuangan sama sekali. Warung lain mencatat secara manual dan tidak konsisten, dengan resistensi awal terhadap pencatatan rutin. Sebuah BUMDes yang didampingi justru menemukan kendala terbesarnya ada di pencatatan piutang dan utang antar unit usaha, bukan di soal teknisnya.
Kasbon bukan sekadar utang
Kasbon adalah bentuk kredit yang diberikan berdasarkan kepercayaan, dan salah satu alasan pelanggan setia terus kembali. Kalau kasbon tidak dicatat dengan baik, warung bisa kehilangan uang tanpa sadar. Kalau dicatat dengan baik, ia justru bisa jadi bahan pelajaran tentang siapa pelanggan paling setia.
Buku utang warung itu seperti buku harian keuangan satu kampung. Isinya lengkap, tapi selama ini cuma pemiliknya sendiri yang bisa membaca tulisannya.